Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh yang di sekelilingnya terdapat hamparan luas hutan TNKS yang memiliki banyak spesies burung. Baik burung yang di lindunggi maupun burung yang hampir punah, Dilokasi inilah para pemikat burung mengambil burung dari Hutan dan untuk di bawa dan di jual ke pasar burung, Menurut data Hijau conservation ada sekitar kurang lebih 2500 orang yang bekerja sebagai pemikat burung di Kabupaten kerinci dan Kota Sungai Penuh, umumnya para pemikat mendapatkan hasil dari pikatanya berkisar kurang dari sepuluh ekor dalam sehari bahkan bisa lebih, dan hasil surfey Hijau Conservation dari sebanyak burung yang di tanggkap berasal dari Hutan TNKS (Pungut Mudik,Bukit Tapan,Masgo dan Renah Pemetik). Burung yang di tangap atau di pikatpun seperti Burung poksai Hitam, Poksai Kepala putih,Kucica daun, burung kuau, rangkong dan jenis-jenis lainnya. Dan umumnya burung burung itupun di jual ke luar daerah seperti Bukit Tinggi dan Jambi .Tugas berat untuk aktifis dan NGO dalam menyelesaikan masalah penangkapan dan penjualan burung yang ada di TNKS, kerja sama dan sosialisasi ini harus mencangkup semua pihak baik itu dari pihak TNKS,KSDA,Kepolisian, organisasi sosial,NGO dan masyarakat setempat.(Hijau conservation)
Jumat, 12 Juni 2015
Senin, 08 Juni 2015
PENGHIJAUAN
Penghijauan adalah program tahunan yang dilakukan oleh HIJAU CLUB yang diikuti oleh seluruh anggotanya dengan tempat yang berbeda-beda mulai dari Kota Sungai Penuh sampai Kabupaten Kerinci, tercatat ada 20 kali HIJAU CLUB mengadakan kegiatan penghijauan, tujuan tida lain adalah untuk menambah cadangan air bersih, menguranggi tingkat erosi (longsor), mencegah banjir dan sebagai penambah oksigen dan karbon yang berguna untuk umat manusia, disisi lain penghijauan juga untuk tempat bermain dan berbiak jenis-jenis burung.
Dengan sukarela dan dengan ikhlas HIJAU CLUB lakukan kegiatan penghijauan tanpa ada perhatian dari pemerinta setempat, seharusnya pemerintah setempat lebih memperhatikan setiap tindakan dan perbuatan kecil yang di lakukan oleh HIJAU CLUB,
Minggu, 07 Juni 2015
Berharap pemimpin Kota Sungai Penuh Mendatang Memperhatikan HIJAU CLUB
HIJAU CLUB, itu adalah panggilan akrab organisasi pecinta alam ini, organisasi yang berada di Kota Sungai Penuh. Keberadaan organisasi ini sangat membantu setiap program-program pemerintah kota Sungai Penuh, HC telah melakukan bermacam-macam kegiatan seprti, Penghijauan dalam rangka pencanangan Sungai Penuh Hijau yang bertempat Di Kumun Debai, Penghijau di Kantor Wali Kota, Bekerja sama dengan DIPERTABUNHUT Kota Sungai Penuh mengadakan Pembibitan yang bertempat di Desa Karya bakhti, mengadakan kegiatan Kali bersih kota Sungai Penuh, Mengadakan kampanye lingkungan kepada sekolah yang ada di kota Sungai penuh dan masih banyak kegiatan-kegiatan lain yang tidak bisa disebutkan satu persatu. Organisasi ini tidak begitu di dukung oleh pemerintah Kota Sungai penuh menurut Joko salah satu anggota muda Hijau Club mengatakan,"pemerintah seolah menutup mata tentang niat tulus anggota kami dalam berbuat untuk lingkungan,berharap untuk pemimpin yang akan datang bisa lebih memperhatikan kami"(sambung)
Kamis, 04 Juni 2015
KAKATUA JAMBUL KUNING
Salah satu pemicu maraknya perdagangan satwa liar di Indonesia adalah lemahnya penegakan hukum yang melindunggi satwa liar. Perdagangan satwa liar yang di lindunggi undang-undang terjadi dengan terbuka di sejumlah tempat.Sangat mudah menemukan satwa liar yang di lindunggi yang di jual di banyak pasar burung.
Menurut Undang-undang nomor 5 tahun 1990 tentang konservasi sumber Daya Alam Hayati dan ekosistemnya, Perdagangan dan kepemilikan satwa dilindunggi adalah dilarang (pasal 21). Pelanggar dari ketentuan tersebut dapat di kenakan pidana penjara 5 tahun dan denda maksimal Rp 100 juta(pasal 40). Dengan demikian perdangangan satwa liar yang di lindunggi adalah sebuah tindakan kriminal.
POTENSI HUTAN ADAT HIANG KERINCI
Potensi Hutan adat Hiang, adalah salah satu hutan adat yang ada di kabupaten Kerinci, Hutan adat ini dapat di capai melalui Kota sungai Penuh dengan jarak tempuh lima belas menit dengan menggunakan kendaraan sepeda motor atau mobil. Hutan adat Hiang memiliki banyak potensi, mulai dari potensi wisata air terjun dan juga wisata mengamati burung, hasil surfey Lembaga Hijau conservation menemukan banyak jenis burung seperti poksai kepala putih, poksai hitam, bentet kelabu, elang bondol, elang hitam, enggang,rangkong, kucica biasa, kucica kampung, dan jenis-jenis kuntul seperti kuntul kerbau dan kuntul kerbau, jenis jenis pohon besarpun banyak di temui di Hutan adat ini seperti barneo, pulai, Pinus strain kerinci(tumbuhan endemik kerinci) , kayu embun dan masih banyak yang lainnya, di sekitar hutan adat kita di manjakan oleh pemandangan yang luar biasa tiupan angin seakan menggoda kita, keramahan petani, sawah yang hijau dan yang menarik yang bisa kita jumpai yaitu durian khas hiang yang rasanya luar biasa.(Roma.Hijau conservation)
Minggu, 08 Maret 2015
SEKOLAH ALAM"HIJAU CONSERVATION"
Pecinta Alam Hijau Club bekerja
sama dengan Lembaga Hijau Conservation mengadakan pendidikan lingkungan bagi
generasi muda yang di beri nama ‘Sekolah Alam’ sekolah bertempat di alam
terbuka, Sekolah alam generasi muda di ajarkan tentang pendidikan lingkungan
hidup, pendidikan cinta alam, pendidkan Botani, Burung dan pendidikan
Konservasi . Kegiatan ini di adakan setiap 2 kali dalam seminggu yaitu hari
Sabtu dan minggu, bermacam macam ilmu mereka dapatkan selain materi yang
tertera juga ada materi tambahan yaitu pembuatan pupuk organik dan cara mendaur
ulang sampah. Tujuan sekolah rimba ini di buat adalah untuk mencerdaskan
genersai muda, menciptakan karakter yang tangguh dan peduli terhadap sesama,
alam dan lingkungan, Disekolah alam yang didirikan dengan para pengajar dan
instruktur yang propisional di bidangnya masing masing. Untuk keterangan lebih
lanjut tentang Sekolah Alam dapat menghubunggi Hijau Conservation dengan CP
085266488212.
Sabtu, 17 Januari 2015
PUTI SITI LARA JUNA (cerita budaya kental Kerinci)
Kerinci memili banyak cerita yang berkaitan
dengan budaya khas kerinci yang kental, tempo dulu masyarakat kerinci menjung
tinggi budaya dan adat istiadat yang ada, cerita Puti Sitilara Juna salah satu
contoh budaya yang dimiliki kerinci, Siti Lara Juna adalah seorang gadis desa
yang tinggal di bawah bukit dan hutan taman nasional Kerinci Seblat, pada suatu
hari datag seorang pemuda yang sedang kemalam hingga pemuda ini memutuskan
untuk menginap di dusun yang sangat terpencil. Dalam perjalannya pemuda ini
bertemu dengan sebuah Baheung(bahasa Kerinci sama dengan pondok ladang), pemuda
ini pun menghampiri rumah tersebut dan mengetuk pintu tiga kali dan mengucapkan
asalamualaikum, terdengar didalam rumah seorang gadis menjawab salam tersebut
dengan suara lembut , ternyata gadis tersebut adalah Puti Lara Juna, pantun dan
sair pun terdengar antara keduanya,”Ae Puti Siti Lara Juna Puti kami numpang
singgah puti”, menjawab Puti,”Ae bujang kayo datang dari mano bujang”. Ae Puti
siti Lara Juna Puti kami numpah bumalam puti,.Menjawab Puti,’ae bujang kami dak
ado bujantan kalau kayo ndak bumalam, bumalam dateh pulasa(pulasa adalah bahasa
kerinci yang artinya teras rumah,.Itulah salah satu adat istiadat atau budaya yang dimiliki oleh kerinci, bagi
seorang pria yang ingin menginap di rumah wanita kalau tidak ada seorang
pria(kakak,bapak) di rumah maka tamupun diizinkan menginap tetapi di teras
rumah, tujuannya adalah supaya tidak menimbulkan fitnah di kalangan masyarakat
lain(roma hijau)
Langganan:
Postingan (Atom)


